Selasa, 28 April 2009

KONFLIK Israel-Palestin

KONFLIK Israel-Palestin

Masalah Israel - Palestina adalah masalah perebutan teritori yang telah berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu, ketika Islam masih belum eksis sebagai sebuah agama.
Amat disayangkan apabila sentimen agama harus diangkat sebagai alat untuk memperoleh dukungan dari negara2 lain. Hamas sebagai pemegang kendali politik Palestina seharusnya tidak bertindak seperti pengecut, dengan bangga meluncurkan misil ke Israel, namun ketika diserang balik berteriak2 seperti ibu tua yang dianiaya preman pasar. Hamas menabur misil, maka misil pula yang akan mereka tuai.

Sekilas Sejarah Palestina

Bangsa Philistine yang asli sudah punah lebih dari 2.500 tahun yang lalu!

Bangsa Philistine (Filistin) adalah suatu bangsa pelaut, campuran berbagai macam etnis dari Turki dan Yunani (pulau Crete) yang berlayar dari Laut Aegea menuju wilayah Laut Mediterranea timur.

Satu kelompok Philistin tiba di Tanah Kanaan pada masa sebelum tahun 1600SM dan menetap di selatan dari Bersyeba di Gerar di mana mereka jatuh ke dalam konflik dengan Abraham, Ishak dan Ismael.

Satu kelompok Philistin yang lain, datang dari Crete setelah dipukul mundur oleh Ramses III setelah mencoba menginvasi Mesir pada tahun 1194SM, menguasai area pantai selatan, di mana mereka membangun lima kota-kota pemukiman (Gaza, Asdod, Askelon, Ekron dan Gat).

Bangsa Philistine tersebut yang menjadi musuh bebuyutan bangsa Israel (Yahudi) yang juga pada masa itu tiba dan tinggal di tanah tersebut. Mereka bukanlah bangsa Arab. Mereka adalah bangsa keturunan Yunani. Jadi, Delilah dan Goliath yang disebut sebagai bangsa Philistine di dalam cerita agama (Kitab Suci) bukanlah bangsa Arab Palestina, melainkan bangsa Eropa.

Bangsa Philistine bahkan bukanlah bangsa Semitis. Mereka tidak berbahasa Arab. Mereka tidak ada hubungan etnis, bahasa atau sejarah dengan jazirah Arab atau bangsa Arab.

Pada zaman purbakala (tahun 1600SM) wilayah ini disebut sebagai Tanah Kanaan karena bangsa asli yang ada di sana adalah bangsa Kanaan (yang sekarang sudah punah).

Setelah bangsa Israel sampai di sana, membuat komunitas dan mendirikan kerajaan di sana (tahun 1020SM-586SM), maka Tanah Kanaan dikenal sebagai Tanah Israel.

Mengapa Tanah Israel sekarang bernama Tanah Palestina?

Nama "Palestina" diberikan oleh penjajah Romawi kepada Tanah Israel kuno sebagai hukuman atas pemberontakan orang-orang Yahudi di Tanah Israel.

Nama "Palestina" ditemukan pada masa penjajahan Romawi di Tanah Israel (tahun 63 SM -313 M). Pada saat itu wilayah itu dikenal sebagai Yudea, suatu kerajaan selatan dari Israel kuno.

Penguasa Romawi yang bertanggungjawab atas daerah Yudea-Israel begitu marah atas pemberontakan orang-orang Yahudi sehingga mencari tahu siapa musuh bebuyutan dari bangsa Yahudi di masa lalu mereka. Para ahli sejarah Romawi menyebut bangsa “Philistine” (Filistin). Maka, penguasa Romawi menyatakan bahwa seluruh Tanah Yudea-Israel selanjutnya bernama Tanah “Philistea” atau dalam bahasa Yunani-Romawi (Latin) diucapkan “Palastina” untuk menjengkelkan bangsa Yahudi. Pada saat yang sama nama ibukota Yerusalem milik bangsa Yahudi diubah menjadi Aelia Capitolina.

Nama "Falastin" yang dipakai orang Arab sekarang untuk "Palestina" bukanlah nama Arab. Ini adalah pengucapan bunyi Arab dari nama Latin "Palastina".

KONFLIK Wilayah, BUKAN Agama

Jauh sebelum orang Israel menguasai wilayah konflik tersebut, Palestina dikenal dengan nama kanaan dan didiami oleh banyak suku bangsa: Kanaan, Amori, Hewi, Yebus, dsb. Selang sekian waktu setelah orang Israel merebut tanah kanaan, mereka mendirikan kerajaan Israel raya di wilayah tersebut yg mencapai masa keemasan di bwh kepemimpinan raja Salomo. Tapi setelah Salomo mangkat, kerajaan itu pecah menjadi kerajaan Israel dan Yehuda.

Ketika Assyria melakukan ekspansi, Israel takluk di tangan mereka dan dimusnahkan. yehuda menyusul saudaranya kira-kira dua abad kemudian ketika Babilonia di bawah kepemimpinan Nebukadnezar menguasai wilayah selatan Palestina tersebut. Setelah lewat beberapa waktu, kerajaan Persia bangkit sebagai kekuatan baru.

Babilonia ditaklukkan, kemudian orang Yehuda diizinkan kembali ke tanah air mereka dan diberi otonomi walaupun secara administratif masih berada di bawah otoritas kerajaan Persia. setelah itu, berturut-turut wilayah itu jatuh ke tangan kekuasaan Yunani, Romawi, Romawi timur, Islam, Tentara Salib, Islam lagi, dan terakhir Inggris Raya. Jadi; praktis tidak pernah lagi ada negara berdaulat yg berdiri di wilayah itu sejak kerajaan Israel dan yehuda ditaklukkan (kecuali fakta bahwa pada masa pra-kekuasaan romawi sempat berdiri kerajaan Yahudi di bawah kepemimpinan dinasti Hasmonea).

Nama Palestina sendiri baru resmi dan populer digunakan untuk menyebut kawasan itu setelah meletusnya pemberontakan Simon bar Kokhba. Kaisar Hadrianus sengaja memberi nama Palestina untuk menekan sentimen nasionalisme Yahudi.

Akibat pemberontakan bar kokhba, orang yahudi diusir keluar dari tanah air mereka sendiri dan hidup sebagai pelarian. Baru setelah Islam menguasai wilayah tersebut di bawah kepemimpinan Khalifah umar bin khattab, orang-orang yahudi diizinkan kembali ke Palestina.

Lama setelah Islam berkuasa di sana, kekaisaran Ottoman sebagai otoritas islam yg berkuasa atas Palestina saat itu pecah. wilayah itu lalu jatuh ke tangan inggris. Tahun 1917, Menlu Inggris, Arthur Balfour mengeluarkan deklarasi Balfour yang tersohor itu yg isinya adalah janji utk membentuk negara Yahudi di Palestina. Deklarasi ini kemudian diikuti oleh rentetan peristiwa yang cukup pelik. Inggris akhirnya malah lepas tangan dan menyerahkan perkara ini ke PBB.

Tahun 1947 PBB mengajukan rencana pembagian wilayah Palestina menjadi dua negara yang terpisah: negara yahudi dan negara Arab. para pemimpin Yahudi menyambut positif usulan ini, tapi para pemimpin Arab menolak mentah-mentah disusul oleh reaksi kekerasan dari komunitas Arab. Mei 1948, Israel mendeklarasikan kemerdekaannya yang kemudian menyulut perang Arab - Israel dan terus berbuntut konflik sampai saat ini.

Menantikan MESIAS Sang Pembebas

Berita tentang datangnya Juruselamat yaitu Mesias, telah lama dikabarkan sejak Nabi Musa. Semua orang Israel menantikan Mesias datang sebagai Juruselamat. Sebelum Yesus datang, bangsa Israel menyangka Mesias datang untuk menyelamatkan Israel dari penjajahan bangsa-bangsa lain.

Bahkan murid-muridNya pada awalnya juga menyangka demikian, tersirat dalam pertanyaan murid-murid dalam Kisah Para Rasul 1:6, Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”

Tetapi Tuhan datang sebagai Juruselamat, bukan untuk menyelamatkan Israel dari penjajahan bangsa-bangsa lain, bukan pula datang untuk mendirikan kerajaan Israel, melainkan untuk menyelamatkan manusia dari dosa dan untuk menyatakan datangnya Kerajaan Allah (Lukas 4:43), yang bukan berupa kerajaan jasmani didunia (Lukas 17:20-21).

Kabar keselamatan telah lama dikabarkan, bangsa Israel sampai detik ini masih menanti-nantikan datangnya Juruselamat yaitu Mesias yang mereka anggap akan membuat mereka bangsa mereka berjaya.

Komentar-Komentar

Beberapa propaganda fitnah bertebaran di internet....

Salam para pembaca,

Menanggapi masalah palestina yang berkembang ahir-ahir ini, saya pribadi sangat menyayangkan respon balik yang dilontarkan oleh beberapa media pro-palestina di internet.
Banyak media-media pro palestina yang berbahasa indonesia, secara semena-mena dan serampangan menuliskan berita-berita bohong demi menciptakan kesan seakan-akan Palestina adalah korban yang lugu tidak berdosa yang ditekan/dijajah oleh iblis Israel.

Sebutlah www.arrahmah.com, waspada.com, dan banyak lagi media-media yang menuliskan propaganda murahan bernada fitnah.

Kadang-kadang saya berpikir dalam hati, "apakah mereka mengira bahwa tulisan artikel mereka akan diterima dan ditelan bulat-bulat oleh masyarakat?", mengingat banyaknya sumber berita di internet yang bisa dijadikan sebagai bahan perbandingan.

Seringkali dalam dunia maya, kita mendapatkan karakter orang-orang pro palestina yang anti di kritik dan membela Palestina secara membabi buta.
Bagi mereka, tidak peduli dengan hal yang lain, peduli setan aturan main dan kodeetik, yang pasti Israel harus dituliskan/digambarkan sebagai setan, sedangkan Palestina/Islam sebagai kelompok lemah yang patut dibela dan dilindungi bagai satwa langka yang dikhawatirkan akan punah.

Menyingkapi berita-berita yang jauh daripada kebenaran tersebut, tentunya banyak pembaca yang bertanya-tanya, dari manakah sumber berita media-media tersebut, sehingga bisa menuliskan berita-berita yang begitu memojokan Israel?

Apakah redaksi media tersebut semata-mata mengarang cerita bohong demi mewujudkan citra Islam yang ditekan oleh israel?

Sebagai contoh:
Jika anda membuka WASPADA online, carilah berita yang berkaitan dengan Israel dan palestina.Hal-hal nonsense dan berbau propaganda akan dapat anda temui bertebaran di seluruh waspada online.

Yang menjadi masalah disini adalah tentunya sikap orang-orang Islam yang seringkali bersifat anti kritik.
Bagi mereka tiada hal lain yang perlu di perdebatkan.Mereka berpendapat bahwa Palestina/Islam adalah korban, dan Israel adalah setan...TITIK!!!!

Jangan coba-coba untuk memberikan masukan atau sanggahan akan hal tersebut, sebab bukan respon positif yang akan anda dapatkan melainkan caci maki,ancaman untuk dibunuh,di hancurkan, dan segala macam kata-kata kasar lainnya.

Oleh karena itu...

Sedikit menyinggung mengenai "image" Islam yang ramah,Islam yang cinta damai, dan islam yang selalu menjadi korban israel dan USA.....Saya sama sekali meragukannya alias tidak percaya!!!

Bagaimana bisa mempercayai image islam yang cinta damai, jika pada pelaksanaannya begitu banyak orang-orang Islam yang terkesan beringasan serta haus darah?

Anyway..

Saya setuju jika ada yang mengatakan bahwa masalah Palestina sebaiknya jangan dikaitkan dengan masalah agama.

Akan tetapi apakah bisa?

Dimana bagi umat Islam seringkali ditanamkan pikiran sejak balita mula, bahwa musuh Islam adalah Yahudi/USA dan Kristen!!!

Jangan heran jikalau peperangan antara Islam dan Kristen tidak akan pernah berhenti (anda tahu mengapa....).

Sebagai penutup:

Bagi komunitas Nasrani di Indonesia khususnya, adalah bijaksana jika kita dapat menempatkan diri kita berjauhan dengan masalah palestina, demi menghindari bentrokan/keributan antara kristen dan pro-Palestina di Republik ini.

Bagaimana jikalau setelah kita mencoba menahan diri dan bersabar, akan tetapi kita masih tetap diganggu dan dipojokan oleh orang-orang tersebut???

Hmmmm.....
Rasanya tidak ada jalan lain yang lebih tepat selain daripada membawa neraka model Jalur Gaza ke Bumi Pertiwi Indonesia.

WAR!!!!

Semoga Tuhan menjaga kedamaian di Indonesia.

Damai Bagi ISRAEL-PALESTINA

Dear Semua,

Jika melihat apa yang tersaji diatas, dengan segala komentarnya, … membuat saya bertanya dalam hati … pernah tidak
bila kita ini .. bisa saja dilahrikan sebagai “orang muslim”, sebagai
“orang israel”, sebagai “orang kristen”, atau menjadi orang yang lain.
Pertanyaannya esensialnya, apakah salah ketika Tuhan menciptakan kita
untuk menjadi salah satu diantara yang saya sebut diatas.

Buat Anda yang menghujat Israel, pernahkah Anda bertanya dalam hati,
bilamana Anda dilahirkan sebagai orang Israel, apakah Anda hanya
diciptakan untuk menjadi seperti yang Anda hujatkan dan anda kutuki ??

Demikian juga dengan yang Pro Israel, pernahkah Anda bertanya dalam
hati, bilaman Anda dilahirkan sebagai orang muslim apakah Anda
diciptakan hanya untuk menjadi “yang tak terpilih” ?

Kita pribadi, adalah baik adanya sejak mula dalam rencana
Ciptaan-Nya. Kalau kita tidak mengakui itu, sama saja kita tidak
mengakui rencana Tuhan dalam hidup manusia. Semua sudah ada dalam
rencana-Nya, bukan untuk menghancurkan ciptaan-Nya yang baik itu,
melainkan untuk menggenapi rencana agung-Nya, demi kasih kemuliaan Dia.
Apalah artinya kita beragama, mengaku kita mengenal Dia, mengenal
Pencipta, kalo kita tidak mengerti Esensi sifat-Nya.

Mengampuni, bahkan dengan orang yang jahat. Apa hebatnya kita jika
kita baik hanya dengan orang yang baik, hanya dengan yang seagama,
sepaham dengan kita. Mengasihi, sama seperti TUhan mengasihi kita tanpa
terkecuali. Bukan kah TUhan itu hadir untuk kita agar kita bisa
merasakan kasih-Nya, mengapa kita tidak bisa mengasihi umat manusia
satu sama lain. Kenapa harus ada kata kutuk, hujat, kebencian, yang
hanya menghasilkan buah kepahitan, bukan buah kebenaran. Saat kita
menghujat, mengutuk, membenci, kita tidak menjadi serupa dengan DIA,
melainkan kita juga membenci DIA yang menciptakan umat manusia.
Bukankah TUHAN hadir bukan untuk membenci dan menghukum manusia yang
kita ini adalah berdosa, melainkan menyelamatkan dan mengampuni.
Mengapa kita berbuat sebaliknya dan menjadi sombong, merasa benar, dan
merasa agamanya yang paling benar … ? Agama-agama di dunia ini, jujur
diakui atau tidak, berangkat dari akar sejarah suatu bangsa dan budaya.
Lalu ironisnya, kita merasa identitas itu adalah kebenarannya, padahal
sumber kebenaran hanya DIA yang punya, bukan kita, bukan agama A, B dan
C. Mutlak hanya DIA.

Kesadaran akan hakiki kita sebagai ciptaan yang hina, namun TUHAN
mengasihi kita selayaknya kita ini miliknya yang berharga, akan
membantu kita untuk belajar mengasihi, dan mengampuni. Karena kita juga
adalah sama-sama manusia berdosa. Siapa yang berhak untuk menghakimi,
padahal kita nanti juga sama-sama akan dihakimi di pengadilan
AGUNG-NYA. Hanya DIA yang berhak, itu adalah hak DIA, bukan kita
manusia hina ini. Tugas kita adalah menjadikan BUMI ini seperti di
SORGA, dimana ada cinta kasih, ketaatan, kerendahan hati dan kerelaan
saling mengampuni. Agar karya-NYA semakin sempurna melalui ciptaan-NYA.
Kenapa kita tidak ingin menyenangkan hati-NYA ?

Semoga kita sadar akan esensi kenapa kita harus ada, untuk
menggenapi rencana AGUNGNYA, menjadi pembawa damai, kasih, pengampunan
dan kerendahan hati dibumi seperti di SORGA.

Damai sejahtera beserta KITA SEMUA.

PROTOKOL ZIONISME

Mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan nama Israel. Terutama
setelah penyerangan besar-besaran. Sebenarnya siapa bangsa Israel itu?

Nama Yahudi barangkali diambil dari Yehuda. Yehuda adalah salah
seorang putra nabi Yakub (Kejadian 29: 22) yang kemudian hari dijadikan
nama salah satu kerajaan Israel yang pecah menjadi dua, setelah Solomon
(Sulaiman) meninggal (1 Raja-Raja 12). Sedangkan nama Israel adalah
nama yang diberikan Tuhan kepada Yakub, setelah Yakub memenangkan
pergulatan melawan Tuhan (Kejadian 32:28). Karena dosa-dosanya yang
sudah tidak termaafkan lagi, bangsa Israel ini dihukum oleh Tuhan
dengan menghancurkan kerajaan yang mereka miliki (2 Raja-Raja 17:7-23).

Bangsa Yahudi sangat terobsesi oleh kitab suci mereka, bahwa hanya
merekalah satu-satunya bangsa yang dipilih oleh Tuhan untuk menguasai
dunia ini. Bukankah Tuhan juga yang menyatakan kepada nenek moyang
mereka Ibrahim, bahwa dari keturunan Ibrahimlah Tuhan akan menurunkan
raja-raja didunia ini. Bagi mereka, keturunan Ibrahim hanyalah anak
cucu yang lahir dari Sarah, isteri pertama Ibrahim, sehingga keberadaan
Ismael anak sulung Ibrahim dari Hajar, dianggap tidak ada. Atas
kecongkakkan dan kesombongan ini, Tuhan murka kepada bani Israel.
Beratus-ratus tahun mereka menjadi warga negara kelas kambing yang
tertindas di negeri Firaun. Setelah Musa berhasil membawa mereka keluar
dari Mesir, bangsa Israel sempat mempunyai kerajaan yang dibangun oleh
Daud dan mencapai masa keemasannya ditangan Solomon. Kerajaan yang
kemudian pecah menjadi dua karena intrik anak-anak Solomon, lalu
menjadi lemah dan akhirnya mereka dijajah oleh Firaun Nekho (2
Raja-Raja 23:31-35). Diusir sebagai orang buangan oleh Nebukadnezar
bangsa Babilonia (2 Raja-Raja 25:1-21). Dijajah oleh Romawi.
Dimusnahkan oleh Nazi, Jerman. Kesemuanya itu adalah hukuman Tuhan,
kepada bangsa yang oleh Yesus (Isa al Masih) disebut sebagai keturunan
bangsa ular beludak (Matius 23:33). Hukuman tersebut tidak membuat
mereka jera, dan bertobat. Malah menjadikan dendam kesumat dihati
bangsa ini untuk melawan Tuhan, Allah Maha Pencipta.

Kecongkakkan mereka dengan menganggap diri sebagai bangsa pilihan
Tuhan satu-satunya yang berhak memerintah dunia ini, membuat mereka
dengan sombongnya bersumpah, untuk memerangi agama lain selain agama
mereka dengan segala cara, persis ketika Iblis bersumpah kepada Tuhan
untuk memperdayai anak cucu Adam, sampai dunia kiamat nanti. Tuhanpun
memperingatkan ummat Islam, melalui Al-Quran untuk berhati-hati
terhadap tipu daya Yahudi ini.

Pegangan mereka adalah kitab Talmud. Yang merupakan kitab setan,
karena sangat jauh menyimpang, bahkan mungkin bertolak belakang dengan
ajaran Taurat.

Nabi Daud AS, yang juga raja, menaklukkan bukit Zion yang merupakan
benteng dari kaum Yabus. Nabi Daud AS tinggal di benteng itu dan
diberinya nama: "bandar Daud" (Samuel II 5:7-9)

Sejak itu maka Zion menjadi tempat suci, dikeramatkan orang-orang
Yahudi yang mereka percayai bahwa Tuhan tinggal di tempat itu:
"Indahkanlah suaramu untuk Tuhan Yang menetap di Zion" (Mazmur 9:11).

Zionisme ialah gerakan orang-orang Yahudi yang bersifat ideologis
untuk menetap di Palestina, yakni di bukit Zion dan sekitarnya.
Walaupun Nabi Musa AS tidak sampai pernah menginjakkan kaki beliau di
sana, namun orang-orang Yahudi menganggap Nabi Musa AS adalah pemimpin
pertama kaum Zionis.

Untuk mencapai cita-citanya, Zionisme membangkitkan fanatisme
kebangsaan (keyahudian), keagamaan dengan mempergunakan cara kekerasan
untuk sampai kepada tujuannya. Zionisme memakai beberapa tipudaya untuk
mengurangi dan menghilangkan sama sekali penggunaan kata "Palestina",
yakni mengganti dengan perkataan-perkataan lain yang berkaitan dengan
sejarah bangsa Yahudi di negeri itu. Digunakanlah nama "Israel" untuk
negara yang telah didirikan oleh mereka, sebab Zionisme di Palestina
identik dengan kekerasan, kezaliman dan kehancuran. Kaum Zionis
mengambil nama Israel adalah untuk siasat guna mengelabui dan menipu
publik, bahwa negara Israel itu tidak akan menggunakan cara-cara yang
biasa digunakan oleh kaum Zionis. Pada hal dalam hakikatnya secra
substansial tidaklah ada perbedaan sama sekali antara Israel dengan
Zionisme. Israel sendiri berasal dari dua kata, isra mempunyai arti
hamba, dan ell berarti Allah.

Secara substansial protokol Zionisme adalah suatu konspirasi jahat
terhadap kemanusiaan. Protokol berarti pernyataan jika dinisbatkan
kepada para konseptornya, dan berarti laporan yang diterima serta
didukung sebagai suatu keputusan jika dikaitkan pada muktamar di Bale,
Switzerland, tahun 1897, yang diprakarsai oleh Teodor Herzl.

.

Protokol-protokol itu yang sebagai dokumen rahasia disimpan di
tempat rahasia, namun beberapa diantaranya dibocorkan oleh seorang
nyonya berkebangsaan Perancis yang beragama Kristen dalam tahun 1901.
Dalam perjumpaan nyonya itu dengan seorang pemimpin teras Zionis di
rumah rahasia golongan Mesonik di Paris, nyonya itu sempat melihat
sebagian dari protokol-protokol itu. Nyonya itu sangat trperanjat
setelah membaca isinya. Ia berhasil mencuri sebagian dari dokumen
rahasia itu, yang disampaikannya kepada Alex Nikola Nivieh, ketua dinas
rahasia Kekaisaran Rusia Timur.

Sebagian kecil dari protokol-protokol Zionisme itu akan disampaikan seperti berikut:

  1. Manusia terbagi atas dua bagian, yaitu Yahudi dan non-Yahudi yang
    disebut Joyeem, atau Umami. Jiwa-jiwa Yahudi dicipta dari jiwa Tuhan,
    hanya mereka sajalah anak-anak Tuhan yang suci-murni. Kaum Umami
    berasal-usul dari syaithan, dan tujuan penciptan Umami ini untuk
    berkhidmat kepada kaum Yahudi. Jadi kaum Yahudi merupakan pokok dari
    anasir kemanusiaan sedangkan kaum Umami adalah sebagai budak Yahudi.
    Kaum Yahudi boleh mencuri bahkan merampas harta benda kaum Umami, boleh
    menipu mereka, berbohong kepada mereka, boleh menganiaya, boleh
    membunuh serta memperkosa mereka. Sesungguhnya tabiat asli kaum Yahudi
    ini bukan hanya ada disebutkan dalam protokol dokumen rahasia Zionis
    tersebut, melainkan ini adalah warisan turun temurun sejak cucu Nabi
    Ibrahim AS dari jalur Nabi Ishaq AS ini mulai mengalami dekadensi
    (baca: busuk ke dalam), yaitu sepeninggal Nabi Sulaiman AS. Ini
    diungkap dalam Al Quran (transliterasi huruf demi huruf): QALWA LYS
    ‘ALYNA FY ALAMYN SBYL (S. AL ‘AMRAN, 75), dibaca: qa-lu- laysa ‘alayna-
    fil ummiyyi-na sabi-l (s. ali ‘imra-n), artinya: mereka berkata tidak
    ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi (3:75).
  2. Protokol Zionisme tentang faham jiwa-jiwa Yahudi dicipta dari jiwa
    Tuhan, hanya mereka sajalah anak-anak Tuhan yang suci-murni, sangatlah
    menyimpang dari syari’at yang dibawakan oleh Nabi Musa AS. Mereka yang
    menyimpang inilah yang dimaksud dengan almaghdhu-b, artinya yang
    dimurkai dalam Surah Al Fa-tihah ayat 7.
  3. Protokol-protokol Zionisme itu merancang juklatnya dengan
    menye-barkan faham-faham yang bermacam-macam. Faham yang mereka
    tebarkan berbeda dari masa ke masa. Suatu waktu mempublikasikan
    sekularisme kapitalisme, suatu waktu menebar atheisme komunisme, suatu
    waktu berse-lubung agnostik sosialisme. Untuk menebarkan pengaruh
    internasional, protokol-protokol itu antara lain berisikan perencanaan
    keuangan bagi kerajaan Yahudi Internasional yang menyangkut mata uang,
    pinjaman-pinjaman, dan bursa. Media surat kabar adalah salah satu
    kekuatan besar dan melalui jalan ini akan dapat memimpin dunia. Manusia
    akan lebih mudah ditundukkan dengan bencana kemiskinan daripada
    ditundukkan oleh undang-undang.

Pada tahun 1902 dokumen rahasia Zionis itu diterbitkan dalam bentuk
buku berbahasa Rusia oleh Prof. Nilus dengan judul ‘PROTOKOLAT
ZIONISME’. Dalam kata pengantarnya Prof. Nilus berseru kepada bangsanya
agar berhati-hati akan satu bahaya yang belum terjadi. Dengan seruan
itu terbongkarlah niat jahat Yahudi, dan hura-hura pun tak bisa
dikendalikan lagi, dimana saat itu telah terbantai lebih kurang 10.000
orang Yahudi. Theodor Herzl, tokoh Zionis Internasional berteriak geram
atas terbongkarnya Protokolat mereka yang amat rahasia itu, karena
tercuri dari pusat penyim-panannya yang dirahasiakan, dan
penyebar-luasannya sebelum saatnya akan membawa bencana. Peristiwa
pembantaian atas orang-orang Yahudi itu mereka rahasiakan. Lalu mereka
ber-gegas membeli dan memborong habis semua buku itu dari toko-toko
buku. Untuk itu, mereka tidak segan-segan membuang beaya apa saja yang
ada, seperti ; emas, perak, wanita, dan sarana apa saja, asal
naskah-naskah itu bisa disita oleh mereka.

.

Mereka menggunakan semua pengaruhnya di Inggris, supaya Inggris mau
menekan Rusia untuk menghentikan pembantaian terhadap orang-orang
Yahudi di sana. Semua itu bisa terlaksana setelah usaha yang amat berat.

Pada tahun 1905 kembali Prof. Nilus mencetak ulang buku itu dengan
amat cepat dan mengherankan. Pada tahun 1917 kembali dicetak lagi, akan
tetapi para pendukung Bolshvic menyita buku protokolat itu dan
melarangnya sampai saat ini. Namun sebuah naskah lolos dari Rusia dan
diselun-dupkan ke Inggris oleh seorang wartawan surat kabar Inggris
‘The Morning Post’ yang bernama Victor E.Mars dan dalam usahanya memuat
berita revolusi Rusia. Ia segera mencarinya di perpustakaan Inggris,
maka didapatinya estimasi tentang akan terjadinya revolusi komunis. Ini
sebelum lima belas tahun terjadi, yakni di tahun 1901. Kemudian
wartawan itu menterjemahkan Protokolat Zionis itu ke dalam bahasa
Inggris dan dicetak pada tahun 1912.

Hingga kini tidak ada satu pun penerbit di Inggris yang berani
mencetak Protokolat Zionis itu, karena kuatnya pengaruh mereka di sana.
Demikian pula terjadi di Amerika. Kemudian buku itu muncul dicetak di
Jerman pada tahun 1919 dan tersebar luas ke beberapa negara. Akhirnya
buku itu diterjemah-kan ke dalam bahasa Arab, antara lain oleh Muhammad
Khalifah At-Tunisi dan dimuat dalam majalah Mimbarusy-Syarq tahun 1950.
Perlu diketahui, bahwa tidak ada orang yang berani mempublikasikan
Protokolat itu, kecuali ia berani menghadapi tantangan dan kritik pedas
pada koran-koran mereka, sebagaimana yang dialami oleh penerjemah ke
dalam bahasa Arab yang dikecam dalam dua koran berbahasa Perancis yang
terbit di Mesir.

Setelah melalui proses yang amat panjang akhirnya pada 14 Mei 1948
silam, kaum Yahudi memproklamirkan berdirinya negara Israel. Dengan
kemerdekaan ini, cita-cita orang orang Yahudi yang tersebar di berbagai
belahan dunia untuk mendirikan negara sendiri, tercapai. Mereka
berhasil melaksanakan "amanat" yang disampaikan Theodore Herzl dalam
tulisannya Der Judenstaat (Negara Yahudi) sejak 1896. Tidaklah
mengherankan jika di tengah-tengah negara-negara Timur Tengah yang
mayoritas menganut agama Islam, ada sekelompok manusia yang
berkebudayaan dan bergaya hidup Barat. Mereka adalah para imigran
Yahudi yang didatangkan dari berbagai negara di dunia karena mengalami
pembantaian oleh penguasa setempat.

Sejak awal Israel sudah tidak diterima kehadirannya di Palestina,
bahkan di daerah mana pun mereka berada. Karena merasa memiliki
keterikatan historis dengan Palestina, akhirnya mereka
berbondong-bondong datang ke Palestina. Imigrasi besar-besaran kaum
Yahudi ini terjadi sejak akhir tahun 1700-an. Akibat pembantaian
diderita, maka mereka merasa harus mencari tempat yang aman untuk
ditempati. Oleh Inggris mereka ditawarkan untuk memilih kawasan
Argentina, Uganda, atau Palestina untuk ditempati, tapi Herzl lebih
memilih Palestina.

Herzl adalah The Founding Father of Zionism. Dia menggunakan
zionisme sebagai kendaraan politiknya dalam merebut Palestina.
Kemampuannya dalam melobi para penguasa dunia tidak diragukan lagi.
Sederetan orang-orang terkenal di dunia seperti Paus Roma, Kaisar
Wilhelm Jerman, Ratu Victoria Inggris, dan Sultan Turki di Istambul
telah ditaklukkannya. Zionisme adalah otak dalam perebutan wilayah
Palestina dan serangkaian pembantaian yang dilakukan Yahudi.

Dengan berdatangannya bangsa Yahudi ke Palestina secara
besar-besaran, menyebabkan kemarahan besar penduduk Palestina.
Gelombang pertama imigrasi Yahudi terjadi pada tahun 1882 hingga 1903.
Ketika itu sebanyak 25.000 orang Yahudi berhasil dipindahkan ke
Palestina. Mulailah terjadi perampasan tanah milik penduduk Palestina
oleh pendatang Yahudi. Bentrokan pun tidak dapat dapat dihindari.
Kemudian gelombang kedua pun berlanjut pada tahun 1904 hingga 1914.
Pada masa inilah, perlawanan sporadis bangsa Palestina mulai merebak.

Berdasarkan hasil perjanjian Sykes Picot tahun 1915 yang secara
rahasia dan sepihak telah menempatkan Palestina berada di bawah
kekuasaan Inggris. Dengan berlakunya sistem mandat atas Palestina,
Inggris membuka pintu lebar-lebar untuk para imigran Yahudi dan hal ini
memancing protes keras bangsa Palestina.

Aksi Inggris selanjutnya adalah memberikan persetujuannya melalui
Deklarasi Balfour pada tahun 1917 agar Yahudi mempunyai tempat tinggal
di Palestina. John Norton More dalam bukunya The Arab-Israeli Conflict
mengatakan bahwa Deklarasi Balfour telah menina-bobokan penguasa Arab
terhadap pengkhiatan Inggris yang menyerahkan Palestina kepada Zionis.

Pada tahun 1947 mandat Inggris atas Palestina berakhir dan PBB
mengambil alih kekuasaan. Resolusi DK PBB No. 181 (II) tanggal 29
November 1947 membagi Palestina menjadi tiga bagian. Hal ini mendapat
protes keras dari penduduk Palestina. Mereka menggelar demonstrasi
besar-besaran menentang kebijakan PBB ini. Lain halnya yang dilakukan
dengan bangsa Yahudi. Dengan suka cita mereka mengadakan perayaan atas
kemenangan besar ini. Bantuan dari beberapa negara Arab dalam bentuk
persenjataan perang mengalir ke Palestina. Saat itu pula menyusul
pembubaran gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir dan pembunuhan terhadap
Hasan al-Banna yang banyak berperan dalam membela Palestina dari
cengkraman Israel.

Apa yang dilakukan Yahudi dalam merebut Palestina tidaklah terlepas
dari dukungan Inggris dan Amerika. Berkat dua negara besar inilah
akhirnya Yahudi dapat menduduki Palestina secara paksa walaupun proses
yang harus dilalui begitu panjang dan sulit. Palestina menjadi negara
yang tercabik-cabik selama 30 tahun pendudukan Inggris. Sejak 1918
hingga 1948, sekitar 600.000 orang Yahudi diperbolehkan menempati
wilayah Palestina. Penjara-penjara dan kamp-kamp konsentrasi selalu
dipadati penduduk Palestina akibat pemberontakan yang mereka lakukan
dalam melawan kekejaman Israel.

Tahun 1956, Gurun Sinai dan Jalur Gaza dikuasai Israel, setelah
gerakan Islam di kawasan Arab dipukul dan Abdul Qadir Audah, Muhammad
Firgholi, dan Yusuf Thol’at yang terlibat langsung dalam peperangan
dengan Yahudi di Palestina dihukum mati oleh rezim Mesir. Dan pada
tahun 1967, semua kawasan Palestina jatuh ke tangan Israel. Peristiwa
itu terjadi setelah penggempuran terhadap Gerakan Islam dan hukuman
gantung terhadap Sayyid Qutb yang amat ditakuti kaum Yahudi. Tahun
1977, terjadi serangan terhadap Libanon dan perjanjian Camp David yang
disponsori oleh mendiang Anwar Sadat dari Mesir

.

Akhirnya pada Desember 1987, perjuangan rakyat Palestina terhimpun
dalam satu kekuatan setelah sekian lama melakukan perlawanan secara
sporadis terhadap Israel. Gerakan Intifadhah telah menyatukan
solidaritas rakyat Palestina. Intifadhah merupakan aksi pemberontakan
massal yang didukung massa dalam jumlah terbesar sejak tahun 1930-an.
Sifat perlawanan ini radikal revolusioner dalam bentuk aksi massal
rakyat sipil.

Adanya kehendak kolektif untuk memberontak sudah tidak dapat ditahan
lagi. Untuk tetap bertahan dalam skema transformasi masyarakat yang
menghindari aksi kekerasan, maka atas prakarsa Syekh Ahmad Yassin
dibentuklah HAMAS (Harakah al-Muqawwah al-Islamiyah) pada bulan Januari
1988, sebagai wadah aspirasi rakyat Palestina yang bertujuan mengusir
Israel dari Palestina, mendirikan negara Islam Palestina, dan
memelihara kesucian Masjid Al-Aqsha. HAMAS merupakan "anak" dari
Ikhwanul Muslimin karena para anggotanya berasal dari para pengikut
gerakan Ikhwanul Muslimin. Perlawanan terhadap Israel semakin gencar
dilakukan dan mengakibatkan kerugian material bagi Israel berupa
kehancuran pertumbuhan ekonomi, penurunan produksi industri dan
pertanian, serta penurunan investasi. Kerugian lainnya yaitu hilangnya
ketenangan dan rasa aman bangsa Israel.

Tidak ada manipulasi sejarah yang lebih dahsyat dari pada yang
dilakukan kaum Zionis terhadap bangsa Palestina. Kongres Zionis I di
Basle merupakan titik balik dari sejarah usaha perampasan tanah
Palestina dari bangsa Arab. Namun hebatnya, para perampas ini tidak
dianggap sebagai ”perampok” tetapi malahan dipuja sebagai ”pahlawan”
dan bangsa Arab yang melawannya dianggap sebagai ”teroris” dan penjahat
yang perlu dihancurkan.

Salah satu kunci untuk memahami semua ini ialah karena sejak Kongres
I kaum Zionis sudah mengerti kunci perjuangan abad XX yakni: diplomasi,
lobi, dan penguasaan media massa. Herzl sebagai seorang wartawan yang
berpengalaman dengan tangkas memanfaatkan tiga senjata andal dalam
perjuangan politik abad modern ini. Sejak Kongres I, dia sangat rajin
melobi para pembesar di Eropa, mendekati wartawan, dan melancarkan
diplomasi ke berbagai negara. Hasilnya sungguh luar biasa. Zionisme
lantas diterima sebagai gerakan politik yang sah bagi usaha merampas
tanah Palestina untuk bangsa Yahudi.

Memang Bukan Konflik Agama

Konflik ini dimulai setelah perang dunia kedua. ketika masyarakat
israel (yahudi) berpikir untuk memiliki negara sendiri. (menurut
sejarah mereka keluar dari tanah israel setelah perang salib karena
dituduh pro-kristen oleh tentara islam, yang kemudian ditinggali oleh
orang-orang filistin atau palestine)

pikiran berbentuk zionisme yang didorong oleh genosida oleh NAZI pada
perang dunia kedua. pilihan letak negara itu tentu saja adalah tanah
leluhur mereka yang pada saat itu merupakan tanah jajahan inggris.
karena secara leluhur mereka memilikinya tapi juga secara religius
beberapa tempat keagamaan Yahudi ada disana.

meskipun tidak secara terbuka, negara-negara barat setuju dan
mendukung(alasannya karena sebelum orang palestina tinggal disana,
tanah itu adalah milik israel). sebaliknya negara-negara arab
berargumen bahwa adalah karena jerman yang melakukan genosida maka
tanah jermanlah yang harus disisihkan untuk dijadikan negara yahudi.

dibalik semua intrik politik dan keuntungan dan kerugian politik,
strategis , dll. inggris secara sukarela mundur dari negara dan
memberikan siapa saja untuk mengklaimnya. berhubung isreal lebih siap
maka mereka lebih dahulu memproklamirkan negara.

sebaliknya orang-orang palestina yang telah tinggal dan besar disana
tidak mau terima mejadi bagian negara Yahudi (dalam literatur doktrin
Islam pemimpin negara harus seorang Muslim).

Sehingga bangsa Israel kemudian melihat orang palestina sebagai ancaman
dalam negeri, begitu juga dengan bangsa palestina yang menganggap
Israel sebagai penjajah baru.

hasilnya bisa ditebak, perang dan konflik yang telah berbelit-belit.
yang sebenarnya adalah urusan antara dua negara/bangsa menjadi konflik
antara agama (Yahudi vs. Islam) belum lagi stabilitas kawasan timur
tengah dan ikut campur Amerika dengan kebijakan MINYAK mereka.

SETUJU; jadi sebenarnya masalah dasarnya tidak ada hubungannya dengan orang
palestina itu beragama Islam atau orang israel itu beragama Yahudi,
tapi masalahnya adalah tanah dan kekuasaan.

Faktor Psiko-Sosial Pemicu Perang

Pertama-tama, bukan keduanya, melainkan faktor psiko-sosial. Psiko-sosial kedua kelompok yang bertikai itu sama-sama keras, keras kepala, dan berdarah panas (gampang naik darah).

Dalam konflik Israel-Palestina sebenarnya ada 3 pihak yang bertikai:
1. Israel garis keras (kelompok Zionis politik)
2. Palestina (kelompok hamas)
3. kelompok moderat dari kedua belah pihak

Masalah Israel-Palestina sedang dalam proses menuju jalan damai ketika Israel dan Palestina dikuasai oleh kelompok-kelompok moderat.

Tapi ketika PM Israel Benjamin Netanyahu terbunuh, publik Israel curiga yang membunuhnya adalah kelompok Hamas. Akibatnya, publik Israel mengalihkan pilihan mereka kepada Ariel Sharon yang merupakan petinggi kelompok garis keras Israel.

Ketika Ariel Sharon berkuasa, publik Palestina makin merasa terancam, sehingga mereka mengalihkan pilihan dari Fatah yang berhaluan moderat kepada Hamas yang berhaluan garis keras. So, terjadilah perang lagi, dan peta jalan damai pun kembali buyar.

Kelompok moderat di Israel dan Palestina yang menghendaki perdamaian sebenarnya besar, tapi tidak diberdayakan membawa perdamaian.

Andai kami menjadi mediator perdamaian, maka langkah yang akan kami tempuh adalah:
1. menyolidkan dan memberdayakan kelompok-kelompok moderat di Israel maupun di Palestina, kemudian menjadikan kedua kelompok moderat itu menjadi kelompok pendamai yang solid.
2. mengangkat konsep negara kesatuan yang dicetuskan oleh kelompok moderat dari kalangan Nasrani Palestina dan Yahudi.

Kelompok garis keras Israel (Zionisme politik) menghendaki negara Israel yang didasarkan pada syariat Torat

Kelompok garis keras Palestina (Hamas) menghendaki negara Israel yang didasarkan pada syariat Torat

Kelompok moderat menghendaki negara kesatuan.

Ini wacana yang bagus, tapi tidak pernah diekspos, karena memang masih mentah.

Negara Kesatuan Indonesia terdiri dari 2000 suku lebih, 6 agama resmi plus 1000 lebih keyakinan tradional, 3 ras besar, dan ribuan kelompok masyarakat, namun bisa bersatu menjadi negara kesatuan republik Indonesia dengan faham Bhineka Tunggal Ika walo banyak kelompok garis keras keagamaan mayoritas di Indonesia yang anti terhadap prinsip keberagaman ini, sehingga menginginkan negara berdasar paham tuuuuuut sendiri.

Israel-Palestina itu HANYA terdiri dari 2 suku, tapi susah akurnya minta ampun.

Sebagai bangsa Indonesia, kita wajib bersyukur, karena seburuk-buruknya bangsa Indonesia itu karakternya lebih baik daripada kedua suku timur-tengah yang doyan perang itu.

Semoga hobi doyan perang itu tidak menular ke masyarakat Indonesia... Amiiiiiin

HAMAS sungguh NEKAD

Dear All,

Saya kira agresi militer Israel ini tidak terlepas dari kesalahan
Palestina sendiri. Perjanjian gencatan senjata yang berakhir pada 19
Desember 2008, rupanya membuat Hamas melepaskan roket-roket ke arah
Israel. Karena tembakan roket Hamas itulah yang membuat Israel menjadi
terpancing, dan ternyata ini sudah ditunggu Israel dan membuat Israel
merasa di atas angin dan memiliki keuntungan mendapat legitimasi untuk
menyerang Hamas. Seharusnya, Israel dan Hamas kembali berdialog untuk
menyetujui gencatan senjata dan bisa diselesaikan dengan baik.

Awalnya memang Israel itu merupakan perpanjangan tangan dari Amerika
Serikat di Timur Tengah untuk menguasai sumber daya alam, terutama
minyak. Konstelasi politiknya, harus ada negara yang mengawasi Negara
Timur Tengah secara geopolitik. Sehingga, negara Timur Tengah tidak
menjadi kuat. Politik zionismenya dulu memang awal abad ke 20, Israel
tidak memiliki tanah. Kemudian diberikan lahan di Arab untuk menguasai
Timur Tengah walaupun secara paksa. Sulitnya, negara Timur Tengah
semakin enggan untuk bersatu.

Sementara di sisi lain, Israel semakin
kuat karena didukung AS dan Barat. Sekarang, saat mereka menunggu
mendapat kesempatan, Hamas menyerang duluan yang membuat Israel merasa
tidak bersalah karena merasa mendapat legitimasi tadi.

Bagaimanapun,
Palestina akan hancur karena kekuatan persenjataan yang tidak seimbang.
Konflik ini murni persoalan politik bukan agama. Sebagian orang
Palestina, sekitar 30 % orang-orang non muslim. Konflik politik dimana
hak-hak tanah orang Palestina diambil alih Israel. Kalau sejarahnya
dulu, kita ingat dengan bantuan Inggris dan kedepannya secara militer
dibantu AS.

Memahami ayat seharusnya disesuaikan dengan asbabun nuzulnya, jadi
disesuaikan dengan sebab-sebab turunnya ayat ini, jangan dibawa
kemana-mana. Tafsirannya jadi berbeda. Dalam konflik ini, mereka hanya
konflik secara politik saja. Saat ini mereka didukung negara
superpower. Di Palestina sendiri, terlihat Hamas dan Fatah terjadi
perpecahan. Sekarang, warga di Negara Palestina sendiri enggan bersatu.
Ini yang paling repot. Melawan negara besar dengan persenjataan modern,
mereka sendiri pecah.

Ibaratnya, Mau melakukan revolusi namun memakan
anak sendiri
Itukan persepsinya berbeda-beda. Kalau buat Israel, Dalam Al-Kitab
ada yang disebut the promise land atau tanah yang dijanjikan. Ada
kesalahpahaman. Menurut Israel tanah yang dijanjikan itu yang didiami
penduduk Palestina. Sedangkan orang Palestina menganggap itu tanah
nenek moyang mereka. Ironisnya, mereka merebut secara paksa sehingga
terjadilah aksi kolonialisme tadi.

sumber:

http://www.in-christ.net/blog/5-literatur/konflik-israel-palestina-masih-sebuah-penantian-akan-mesias

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar